Kamis, 18 April 2013

Tugas Softskill II Bahasa Indonesia 2. (Farhah .12110612 .3Ka26)



Penalaran

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang dapat menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut dengan menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

Metode dalam menalar
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.

1.     Metode induktif

Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan, fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Contoh:
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai.
Jika dipanaskan, logam memuai.

Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.
2.    Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh:
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Konsep dan simbol dalam penalaran

Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran berupa argumen.
Kesimpulannya, pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata,  sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumen yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari sebuah premis.
Berdasarkan paparan diatas, jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkaitan. Tidak ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan, untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.

Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran

Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar sudah terpenuhi. Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar disini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat (Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran, akses 18 April 2013).

Kesimpulan
Dapat dikatakan bahwa penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan (belief) terhadap suatu pernyataan atau asersi. Pernyataan dapat berupa teori (penjelasan) tentang suatu fenomena atau realitas alam, ekonomik, politik, atau social (Suwarjono, 2005: 41-42).



Daftar Pustaka
Wikipedia. "penalaran."  http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran (Akses
        Snappy Prapanca, Jakarta Selatan (Pukul 14.10 WIB))
 Suwarjono. Penalaran. Jakarta: Kompas Media, 2005.

Rabu, 13 Maret 2013

TUGAS ANALISIS & PERANCANGAN SISTEM INFORMASI

FARHAH
3KA26
12110612

 
KLASIFIKASI SISTEM
1.      Sistem Deterministik
Sistem deterministik (deterministic system) adalah suatu sistem yang operasinya dapat diprediksi secara tepat, misalnya sistem komputer. Sistem dimana operasi-operasi (input/output) yang terjadi didalamnya dapat ditentukan/ diketahui dengan pasti.
Contoh
a. Program komputer, melaksanakan secara tepat sesuai dengan rangkaian instruksinya.
b. Sistem penggajian.

2.      Sistem Probabilistik
Sistem probabilistik (probabilistic system) adalah sistem yang tak dapat diramal dengan pasti karena mengandung unsur probabilitas, misalnya sistem arisan dan sistem sediaan, kebutuhan rata-rata dan waktu untuk memulihkan jumlah sediaan dapat ditentukan tetapi nilai yang tepat sesaat tidak dapat ditentukan dengan pasti. Sistem yang input dan prosesnya dapat didefinisikan, tetapi output yang dihasilkan tidak dapat ditentukan dengan pasti; (Selalu ada sedikit kesalahan/penyimpangan terhadap ramalan jalannya sistem).
Contoh :
·       Sistem penilaian ujian
·       Sistem pemasaran.

3.      Sistem Tertutup
Sistem tertutup (closed system) adalah sistem yang tidak bertukar materi, informasi, atau energi dengan lingkungan, dengan kata lain sistem ini tidak berinteraksi dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya reaksi kimia dalam tabung yang terisolasi.

4.      Sistem Terbuka
Sistem terbuka (open system) adalah sistem yang berhubungan dengan lingkungan dan dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya sistem perusahaan dagang. Sistem yang mengalami pertukaran energi, materi atau informasi dengan lingkungannya. Sistem ini cenderung memiliki sifat adaptasi, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga dapat meneruskan eksistensinya.
Contoh
Sistem keorganisasian memiliki kemampuan adaptasi. (Bisnis dalam menghadapi persaingan dari pasar yang berubah, Perusahaan yang tidak dapat menyesuaikan diri akan tersingkir)

5.      Sistem Alamiah (Natural System)
Sistem Alamiah (natural system) adalah sistem yang terjadi karena alam, misalnya sistem tata surya.

6.      Relatively Closed System
Sistem yang tertutup tetapi tidak tertutup sama sekali untuk menerima pengaruhpengaruh lain. Sistem ini dalam operasinya dapat menerima pengaruh dari luar yang sudah didefinisikan dalam batas-batas tertentu.

Contoh :
Sistem komputer. (Sistem ini hanya menerima masukan yang telah ditentukan sebelumnya, mengolahnya dan memberikan keluaran yang juga telah ditentukan sebelumnya. tidak terpengaruh oleh gejolak di luar sistem).

7.         Artificial System
Sistem yang meniru kejadian dalam alam. Sistem ini dibentuk berdasarkan kejadian di alam di mana manusia tidak mampu melakukannya. Dengan kata lain tiruan yang ada di alam.

Contoh :
·  Sistem AI, yaitu program komputer yang mampu membuat computer seolah-olah berpikir. 
·  Sistem robotika. 
·  Jaringan neutral network.

8.      Manned System
Sistem penjelasan tingkah laku yang meliputi keikut sertaan manusia. Sistem ini dapat digambarkan dalam cara-cara sebagai berikut :
            1)      Sistem manusia-manusia. 
o    Sistem yang menitik beratkan hubungan antar manusia. 
2)      Sistem manusia-mesin. 
o    Sistem yang mengikutsertakan mesin untuk suatu tujuan. 
3)      Sistem mesin-mesin.
o    Sistem yang otomatis di mana manusia mempunyai tugas untuk memulai dan mengakhiri sistem, sementara itu manusia dilibatkan juga untuk memonitor sistem. 
o    Mesin berinteraksi dengan mesin untuk melakukan beberapa aktifitas.
Pengotomatisan ini menjadikan bertambah pentingnya konsep organisasi, dimana manusia dibebaskan dari tugas-tugas rutin atau tugas-tugas fisik yang berat.

Referensi :



Kamis, 15 November 2012

Tugas 4 Mata Kuliah Bahasa Indonesia 1 (Postingan ke 2)

Nama : Farhah
Kelas : 3ka26
Npm : 12110612

PILIHAN KATA (DIKSI)

A.    Definisi Diksi
Diksi dapat diartikan sebagai ekspresi oleh penulis atau pembicara untuk mengungkapkan sebuah cerita. Pengertian secara umum, diksi merupakan pilihan kata yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, memilih kelompok kata atau menggunakan ungkapkan dan gaya bahasa yang tepat yang digunakan dalam suatu situasi atau sebuah peristiwa. Oleh karena itu, untuk memilih diksi yang tepat seorang pengarang harus memunyai kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa pembacanya. Seorang pengarang dapat memilih kata yang tepat dan sesuai jika ia menguasai sejumlah besar kosakata yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu menggerakkan dan mendayagunakan kekayaannya itu menjadi jaring-jaring kalimat yang jelas dan efektif.
Agar menghasilkan cerita yang menarik, diksi atau pemilihan kata harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.      Ketepatan dalam pemilihan kata untuk menyampaikan suatu gagasan.
2.  Pengarang harus memiliki kemampuan dalam membedakan secara tepat nuansa makna, sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan.
3.    Menguasai beragam kosakata dan mampu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi kalimat yang jelas dan efektif.
Sebelum menentukan pilihan kata, seorang pengarang harus memperhatikan masalah makna. Makna sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri.
Adapun makna kata menurut (Chaer, 1994:60), terbagi atas beberapa kelompok yaitu:
a. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera atau makna yang nyata dalam kehidupan. Contohnya: kata "tikus". Makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing), sedangkan makna gramatikal adalah makna yang digunakan untuk menyatakan makna atau nuansa makna gramatikal (sesuai dengan tata bahasa; menurut tata bahasa, Red]. Untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: "buku" yang bermakna "sebuah buku" menjadi buku-buku yang bermakna "banyak buku".
b. Makna Referensial dan Nonreferensial
Perbedaan diantara keduanya adalah berdasarkan ada atau tidaknya referen dari kata-kata tersebut. Sebuah kata memiliki makna referensial jika mempunyai referen. Kata non referensial adalah kata yang tidak memiliki referen. Contoh: kata "meja" dan "kursi" (bermakna referen), kata "karena" dan "tetapi" (bermakna non referensial).
c. Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang memiliki sebuah leksem [satuan leksikal dasar yang abstrak, yang mendasari berbagai bentuk kata; satuan terkecil dalam leksikon,Red]. Contohnya: kata "kurus", makna denotatifnya adalah keadaan tubuh yang lebih kecil dari ukuran normal dan makna konotatifnya adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contohnya, kata "kurus" pada contoh diatas bermakna konotatif netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata "ramping" bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan "ramping".
d. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah lema [kata atau frasa masukan dalam kamus di luar definisi atau penjelasan lain yang diberikan dalam entri, Red] terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Contohnya: kata "kuda", makna konseptualnya adalah sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai sedangkan makna asosiatifnya adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata yang berkenaan dengan adanya hubungan kata dengan suatu yang berada diluar bahasa. Contohnya, kata "melati" berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian. Kata "merah" berasosiasi "berani" atau paham komunis.
e. Makna Kata dan Makna Istilah
Makna kata walaupun secara sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu akan menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat. Contoh: kata "tahanan", bermakna orang yang ditahan, tapi bisa juga hasil perbuatan menahan. Kata  "air", bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi, atau air hujan. Makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Contohnya: kata "tahanan" di atas masih bersifat umum. Tetapi pada bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan dan berhubungan dengan suatu perkara.
f.  Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Idiom adalah satuan  bahasa (baik berupa kata, frasa, maupun kalimat) maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal, baik unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan tersebut. Contohnya: kata "ketakutan", "kesedihan", "keberanian", dan "kebimbangan" memiliki makna hal yang disebut makna dasar. Kata "rumah kayu" bermakna, rumah yang terbuat dari kayu. Makna peribahasa bersifat membandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Contoh: kata "bagai", "bak", "laksana", dan "umpama" lazim digunakan dalam peribahasa.
g. Makna Kias dan Lugas
Makna kias adalah kata, frasa dan kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya. Contohnya: kata "Putri malam" bermakna bulan dan kata "Raja siang" bermakna matahari. Makna lugas adalah kebalikan dari makna kias. Makna lugas adalah makna dari sebuah frasa dan kalimat yang tidak menimbulkan tafsir ganda. Contohnya: kata "makan" dalam kalimat "Adik sedang makan roti," dan frasa "tangan kanan" dalam kalimat "Tangan kanannya patah dalam kecelakaan kemarin."
h.  Kata Ilmiah dan Kata Populer
Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang dapat diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunakan oleh kaum pelajar dalam berkomunikasi maupun dalam tulisan-tulisan ilmiah seperti karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis, desertasi. Selain itu digunakan pada acara-acara resmi. Kata popular adalah kata yang biasa digunakan dalam komunikasi sehari-hari masyarakat umum.

Kesalahan dalam pembentukkan kata, yang sering ditemukkan dalam bahasa lisan maupun tulis:
1.      Penanggalan awalan meng-
2.      Penanggalan awalan ber-
3.      Peluluhan bunyi /c/
4.      Penyengauan kata dasar
5.      Bunyi /s/, /k/, /p/, dan /t/ yang tidak luluh
6.      Awalan ke- yang keliru pemakaian akhiran –ir
7.      Padanan yang tidak serasi
8.      Pemakaian kata depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada, dan terhadap
9.      Penggunaan kesimpulan, keputusan, penalaran, dan pemukiman
10.  Penggunaan kata yang hemat
11.  Analogi
12.  Bentuk jamak dalam bahasa Indonesia.

B.     Contoh Penggunaan Diksi Pada Suatu Kalimat
1. Hari ini Aku pergi ke pantai bersama dengan teman-temanku. Udara di sana sangat sejuk. Kami bermain bola air sampai tak terasa hari sudah sore. Kami pun pulang tak lama kemudian.
2.   Liburan kali ini Aku dan teman-temanku berencana untuk pergi ke pantai. Kami sangat senang ketika hari itu tiba. Begitu sampai disana, kami sudah disambut oleh semilir angin yang tak heti-hentinya bertiup. Ombak yang berkejar-kejaran juga seolah tak mau kalah untuk menyambut kedatangan kami. Kami menghabiskan waktu sepanjang hari di sana. Dan Kami pulang dengan hati senang.
Kedua paragraph diatas memiliki makna yang sama, tetapi dalam pemilihan kata atau diksi, paragraph kedua lebih menarik bagi pembaca karena enak dibaca dan tidak membosankan.



DAFTAR PUSTAKA

http://irpantips4u.blogspot.com/2011/10/makalah-diksi.html
http://pelitaku.sabda.org/menentukan_pemilihan_kata_diksi
http://dwizeru.wordpress.com/2011/10/09/diksi-dan-kalimat-efektif/